Mamasa, Global Terkini- Program Agroforestri di Kecamatan Tawalian, Desa Tawalian Timur, memicu protes warga. Kegiatan yang menelan anggaran sekitar Rp1,6 miliar pada 2023 itu dinilai tak berjalan sesuai harapan.
Kepala Desa Tawalian Timur, Saulinggi, mengaku telah meninjau lokasi penanaman di Dusun Salulotong. Hasilnya jauh dari target yang disepakati.
“Saat kegiatan mau masuk di desa kami. Kami pernah mengadakan rapat, saat itu saya minta 70 persen harus tumbuh, namun fakta di lapangan tidak sampai 30 persen yang tumbuh,” Ujar Saulinggi, Kamis 05 Februari 2026.
Ia menegaskan, pemerintah desa belum akan melakukan serah terima kegiatan sebelum target terpenuhi.
“Belum serah terima. Sebab saya tidak akan serah terima kalau tidak sesuai kesepakatan dari awal,” Tegas Saulinggi.
Di sisi lain, salah satu pekerja kegiatan, Timotius, membantah tudingan tersebut. Ia menilai lokasi yang dikunjungi bukan titik utama pekerjaan.
“Jadi kalau bisa jangan angkat berita kalau tidak akurat, karena itu bisa hanya membuat gaduh masyarakat. Intinya tidak ada kegiatan RHL di desa kami. Tapi kalau kegiatan lain ada,” Ujar Timotius lewat pesan Whatsap nya.
Ia menyebut pekerjaan telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis dan dilengkapi dokumentasi.
“Kalau persoalan tumbuh atau tidak, intinya kami bukan Tuhan, kami hanya manusia yang berusaha sesuai aturan yang kami pedomani,” Pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, kegiatan tersebut disebut sebagai program Reboisasi Hutan dan Lahan (RHL) oleh BPDAS Sulawesi Barat.
Namun, klarifikasi menyebut program yang berjalan adalah Agroforestri, yakni sistem pengelolaan lahan berkelanjutan yang menggabungkan tanaman pertanian, pohon, dan/atau peternakan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga fungsi ekologis.













