Bone, Global Terkini- Ketidakstabilan jaringan internet di sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang selama ini dikeluhkan, mulai menemukan titik terang. Permasalahan tersebut bukan berasal dari penyedia jaringan utama, melainkan dari kualitas perangkat akses point (AP) yang digunakan di masing-masing OPD.
Pihak Penyedia Jaringan, Enal yang ditemui di Kantor Kominfo Bone, membeberkan penyebab utama akses jaringan di OPD tidak maksimal.
“Penyebab utama jaringan tidak maksimal adalah akses point di OPD yang sudah wajib diupgrade, karena rata rata pakai Akses Point yang biasa,” katanya, Selasa 7 April 2026.
Enal yang juga tim IT penyedia dan standby di Kantor Kominfo selama ini sudah menyampaikan ke Kominfo untuk segera upgrade akses point.
“Upgrade akses point adalah hal urgent, tapi tidak ada anggarannya,” sambungnya.
Saat ini banyak OPD masih menggunakan akses point dengan spesifikasi rendah, bahkan sebagian hanya berkisar di harga Rp200 ribuan. Perangkat dengan kualitas tersebut dinilai tidak mampu menopang kebutuhan jaringan yang padat, terutama untuk aktivitas perkantoran melibatkan banyak pengguna secara bersamaan.
Idealnya, setiap OPD menggunakan akses point dengan spesifikasi premium agar distribusi jaringan lebih stabil dan merata.
Selain itu, jumlah perangkat juga harus disesuaikan dengan luas dan kebutuhan kantor.
Dari perhitungan teknis, rata-rata setiap OPD membutuhkan sekitar 5 hingga 7 unit akses point agar jaringan dapat menjangkau seluruh ruangan tanpa hambatan. Dengan dukungan perangkat yang memadai, kualitas internet diyakini akan jauh lebih optimal.
Menariknya, jika pengadaan akses point dilakukan secara serius di awal, OPD sebenarnya tidak perlu lagi menganggarkan langganan internet mandiri setiap tahun. Cukup dengan satu sumber jaringan utama yang dikelola terpusat oleh Kominfo, lalu didistribusikan secara maksimal melalui perangkat yang memadai.
Namun demikian, kendala utama saat ini berada pada keterbatasan anggaran. Pihak Kominfo disebut belum memiliki alokasi khusus untuk melakukan upgrade akses point di seluruh OPD.
Akibatnya, meskipun jaringan utama telah tersedia, distribusi di tingkat pengguna tetap tidak maksimal. Hal ini memunculkan persepsi seolah-olah jaringan internet bermasalah, padahal persoalan utamanya berada pada infrastruktur internal masing-masing OPD.
Jika kondisi ini tidak segera dibenahi, pemborosan anggaran berpotensi terus terjadi setiap tahun melalui langganan internet mandiri, tanpa menyelesaikan akar persoalan yang sebenarnya.













