Bone, Global Terkini- Truk bak kayu berwarna kuning dengan terpal biru kerap melintas di poros Bone-Wajo. Sekilas tak ada yang aneh. Namun, di balik roda besar itu, diduga terselip bisnis gelap, jeriken-jeriken solar subsidi yang siap dilempar ke luar daerah.
Pemiliknya disebut seorang pria berinisial ED, warga Kecamatan Palakka. Bagi para pemain dan pengawas bisnis bahan bakar di Bone, nama ini bukan barang baru.
“ED ini pemain lama. Bahkan salah satu penyelundup solar subsidi terbesar di Kabupaten Bone. Pelemparannya biasanya ke wilayah Siwa, Kabupaten Wajo,” ujar seorang sumber yang meminta namanya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Aktivitas ED bukan insidental. Dalam sepekan, truk kuning itu bisa dua hingga tiga kali membawa puluhan jeriken solar subsidi. Barang tersebut diduga dibeli oleh seorang pria berinisial AL di Siwa, untuk kemudian dikirim jauh ke Sulawesi Tenggara.
Ironisnya, meski namanya kerap dibicarakan, ED seolah tak pernah tersentuh hukum.

“Dia ambil barang di SPBU Palakka. Jatahnya banyak karena menggunakan barcode milik banyak orang,” kata sumber itu lagi, Kamis 25 September 2025.
Jaringan yang Menggurita
Jejak ED hanyalah pintu masuk ke sebuah jaringan yang lebih luas. Penyelundupan solar subsidi di Bone tak lagi perkara individu, tapi sistem yang melibatkan banyak tangan.
“Dulu lewat Pallette dikirim, tapi setelah ketahuan pindah ke Pelabuhan Siwa,” kata seorang sumber lain, menyingkap bagaimana modus ini terus beradaptasi.
Nama lain yang tak kalah besar adalah BB. Ia disebut-sebut menguasai dua SPBU di Bone milik HU. Skala operasinya jauh melampaui ED.
“Kalau dia pengirimannya ke Sulawesi Tengah, pengambilannya itu diduga sampai 300 jeriken per hari,” tutur sumber itu.
Setiap jeriken yang keluar dari SPBU, bukannya murni harga subsidi. Ada pungutan tambahan, istilahnya “biaya pompa”.
“Setiap jeriken dikenakan biaya tambahan atau ‘biaya pompa’, berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per jeriken,” ujar sumber itu lagi.
Subsidi Bocor, Negara Terkuras
Triliunan rupiah digelontorkan pemerintah saban tahun untuk solar subsidi, dengan niat membantu masyarakat kecil. Tapi di Bone, instrumen pemerataan ekonomi itu bocor, beralih jadi ladang bisnis gelap.
Sementara negara kehilangan potensi besar, para pemain hitam meraup untung. Rakyat kecil yang mestinya terbantu, justru menjadi korban paling awal.
Dampak Nyata di Jalanan
Di SPBU, antrean panjang sudah jadi pemandangan sehari-hari. Sopir-sopir truk barang menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
“Banyak sopir terpaksa bermalam di SPBU hanya untuk mendapat jatah,” kata seorang sopir yang ditemui wartawan.
Kelangkaan solar bukan sekadar membuat kendaraan mengantre. Ia melumpuhkan distribusi barang, memperlambat denyut ekonomi sehari-hari.














Maju terus mumpung tidak ada petugas pengamanan