Bone, Global Terkini- Sorotan terhadap proyek cetak sawah 2025 di Kabupaten Bone kini mengerucut pada empat perusahaan pemenang tender. Mereka adalah Mineral Unggul Jaya dengan nilai kontrak Rp12,2 miliar, Amarta Kontruksi Rp5,8 miliar, Amal Loponindo Rp21,3 miliar, dan Icon Perkasa Abadi Rp8,3 miliar.
Alih-alih menjadi motor ketahanan pangan, proyek bernilai puluhan miliar rupiah ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.
Keempat perusahaan tersebut muncul dalam skema tender yang sejak awal menuai kejanggalan. Juknis proyek cetak sawah semula mengarah pada pola swakelola, namun di tengah jalan berubah menjadi tender tanpa penjelasan terbuka kepada publik. Perubahan mendadak ini memunculkan dugaan kuat bahwa arah proyek telah dibelokkan sejak tahap perencanaan.
Di lapangan, persoalan kian kompleks. Dugaan penggunaan BBM subsidi oleh alat berat, keterlambatan pengerjaan, hingga indikasi perusakan kawasan hutan di Kecamatan Kahu menjadi rangkaian masalah yang tak terpisahkan dari aktivitas proyek.
Kepala KPH Ulubila, Andi Ariadi, bahkan telah mengonfirmasi adanya pengrusakan kawasan hutan yang berkaitan dengan proyek cetak sawah, meski menyebutnya dipicu miskomunikasi.
Lebih serius lagi, beredar informasi adanya oknum yang berperan sebagai pengatur dan pembagi paket proyek kepada para pemenang tender. Fee yang disebut-sebut mencapai hingga 25 persen menambah kuat dugaan praktik rente dalam proyek strategis ini. Jika benar, maka proyek cetak sawah Bone bukan sekadar gagal dalam tata kelola, tetapi berpotensi melanggar hukum.
Minimnya keterbukaan informasi terkait tender dan pelaksanaan proyek membuat publik sulit menilai akuntabilitas keempat perusahaan tersebut. Yang terlihat justru pola klasik proyek publik, nilai besar, pengawasan lemah, dan masalah muncul satu per satu.
Proyek cetak sawah di Bone kini berdiri di persimpangan. Tanpa audit menyeluruh dan penjelasan transparan atas peran empat pemenang tender tersebut, program yang digadang-gadang memperkuat ketahanan pangan ini berisiko menjadi contoh buruk bagaimana proyek strategis negara tergelincir oleh kepentingan dan pengaturan di balik layar.













