Oleh: Dray vibrianto, Kadis DLH Kabupaten Bone
Global Terkini- Hari ini, 5 Juni, dunia kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Setiap tahun, momentum ini seolah menjadi alarm rutin yang mengajak kita bicara tentang bumi yang kian rapuh: hutan yang terus menyusut, sungai yang tercemar, perubahan iklim yang tak lagi menentu, hingga gunungan sampah yang kian kompleks.
Namun, pada peringatan tahun ini, saya ingin mengajak kita semua melihat persoalan ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda.
Mari kita jeda sejenak dari menunjuk kambing hitam.
Peringatan kali ini tidak perlu dimulai dari perdebatan soal tumpukan sampah di TPA, bukan dari persoalan pencemaran sungai, dan bukan pula dari kerusakan masif yang dilakukan oleh pihak lain. Saya ingin mengajak kita memulai dari sesuatu yang paling dekat—dari diri kita sendiri.
Ketika membaca firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”, pikiran kita sering kali langsung melompat pada kehancuran skala besar. Kita membayangkan deforestasi hutan, alih fungsi lahan, eksploitasi pertambangan, limbah hitam industri, atau asap tebal yang membubung ke langit.
Kita selalu membayangkan kerusakan itu terjadi di tempat yang jauh, dilakukan oleh korporasi besar atau kebijakan yang keliru.
Padahal, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita ajukan ke dalam batin sendiri: Jangan-jangan, sebagian dari jejak kerusakan itu justru lahir dari rona hidup dan aktivitas sepele kita sehari-hari?
Pertanyaan ini tentu bukan untuk mencari siapa yang salah, apalagi untuk menolak kemajuan zaman. Islam sama sekali tidak mengajarkan umatnya untuk menjauhi dunia.
Allah menciptakan alam semesta ini untuk kemaslahatan seluruh makhluk, dan manusia diamanahkan sebagai khalifah untuk mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Namun sebagai khalifah, kita sering lupa bahwa hampir setiap kenyamanan yang kita nikmati hari ini membawa konsekuensi ekologis yang nyata.
Coba kita raba kembali rutinitas kita. Sejak membuka mata di pagi hari, kita telah mengonsumsi begitu banyak sumber daya bumi tanpa pernah menghitungnya.
Lampu yang menyala, air bersih yang mengalir lancar dari keran, gawai di genggaman, kulkas yang menjaga kesegaran makanan, hingga kendaraan yang mengantar kita bekerja—semuanya terasa begitu biasa.
Kita begitu terbiasa dimanjakan oleh fasilitas ini, sampai-sampai kita abai bahwa di balik sepotong baju yang kita kenakan, sepasang sepatu, tas leather, jam tangan, atau gawai yang kita bawa, ada rantai panjang eksplorasi energi, air, lahan, dan emisi gas rumah kaca yang bekerja di baliknya.
Tidak ada yang salah dengan menikmati fasilitas tersebut. Yang keliru adalah ketika kita menikmatinya tanpa kesadaran akan dampak yang ditimbulkannya.
Saat ini, krisis iklim bukan lagi sekadar prediksi ilmiah di atas kertas, melainkan realitas yang kita rasakan lewat suhu udara yang kian menyengat dan anomali cuaca yang sulit ditebak. Banyak yang mengira ini murni dosa industri skala besar. Padahal, krisis global ini adalah akumulasi dari miliaran aktivitas personal yang saling bertumpuk.
Satu contoh sederhana yang sering luput adalah urusan isi piring kita. Food waste—makanan yang terbuang sia-sia menjadi sampah—ternyata menyumbang hampir 10 persen dari total emisi gas rumah kaca global. Ketika kita membuang seporsi makanan, yang terbuang sebenarnya bukan sekadar sisa nasi atau lauk, melainkan seluruh air yang dipakai untuk menyiramnya, pupuk yang menyuburkannya, bahan bakar yang mengangkutnya, dan keringat manusia yang mengolahnya.
Hal yang sama berlaku pada energi listrik yang kita biarkan terbuang, atau barang-barang konsumtif yang kita beli hanya demi gengsi lalu berakhir menjadi tumpukan limbah. Semuanya meninggalkan jejak. Semuanya menyisakan dampak.
Kesadaran kolektif inilah yang mendesak untuk kita bangun kembali. Hari Lingkungan Hidup tidak boleh sekadar menjadi ritual tahunan seremonial seperti menanam beberapa batang pohon atau aksi bersih-bersih sampah sesaat. Langkah-langkah fisik itu sangat baik dan penting, namun belum menyentuh akar masalah jika tidak dibarengi dengan muhasabah batin.
Kita butuh muhasabah tentang bagaimana kita memperlakukan air bersih. Muhasabah tentang seberapa bijak kita mengonsumsi energi. Muhasabah tentang cara kita menghargai makanan, hingga bagaimana kita merawat barang-barang yang kita miliki agar berumur panjang dan tidak cepat menjadi sampah.
Sebab pada akhirnya, krisis lingkungan hidup ini bukan semata-mata urusan kegagalan teknologi atau lemahnya regulasi belaka. Ini adalah persoalan akhlak. Ini adalah cerminan dari sejauh mana rasa syukur kita, bagaimana kita memegang tanggung jawab, dan bagaimana kita menunaikan amanah sebagai pemimpin di muka bumi.
Sebelum kita menuntut perubahan besar dari dunia atau mempertanyakan siapa yang paling berdengar atas kerusakan global, mari kita tundukkan kepala dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya memperlakukan nikmat dan titipan Allah ini dengan bijaksana?
Perbaikan bumi tidak selalu harus menunggu kebijakan global yang rumit. Ia bisa dimulai dari ruang makan kita, dari keputusan belanja kita, dan dari kesadaran sederhana bahwa bumi ini bukan warisan usang dari masa lalu yang bebas kita eksploitasi, melainkan titipan suci yang harus kita kembalikan dalam kondisi layak kepada anak cucu kita kelak.
Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mari bekerja untuk iklim, dimulai dari kejujuran melihat jejak yang kita tinggalkan. ***











