Bone, Global Terkini- Suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Tellusiattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tahun ini menyisakan kisah yang mengharukan.
Di balik khidmatnya upacara pengibaran bendera, seorang anggota Paskibraka bernama Masda harus menjalankan tugas di tengah duka mendalam setelah kehilangan sang ayah.
Masda, santri MA Mattiro Walie asal Desa Ulo, baru saja ditinggal wafat ayahnya sesaat sebelum upacara berlangsung.
Bahkan, hanya sekitar tiga jam setelah mengantarkan sang ayah ke peristirahatan terakhir, ia kembali mengenakan seragam Paskibraka dan berdiri tegap sebagai pembawa baki Sang Saka Merah Putih.
Di tengah luka yang masih begitu terasa, Masda memilih menuntaskan amanah yang telah dipersiapkannya selama berbulan-bulan.
Keteguhannya menjalankan tugas di momen penuh duka menjadi pemandangan yang mengundang rasa haru sekaligus hormat dari para peserta upacara.
Sikap Masda pun mendapat apresiasi dari Kapolsek Tellusiattinge, Iptu Bahar. Bersama Camat Tellusiattinge, perwakilan Koramil, pembina Paskibraka, serta sejumlah tokoh masyarakat, ia mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan dukungan moril kepada keluarga.

“Atas nama Forkopimcam Tellusiattinge, kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya almarhum. Kami juga memberikan apresiasi kepada ananda Masda yang tetap melaksanakan tugas sebagai Paskibraka di tengah suasana duka,” ujar Iptu Bahar.
“Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tambahnya.
Kehadiran jajaran pemerintah, TNI-Polri, pembina Paskibraka, hingga masyarakat di rumah duka menjadi bukti bahwa keteguhan Masda tidak dibiarkan dilalui sendirian.
Dukungan dan doa mengalir untuk keluarga yang tengah berduka.
Kisah Masda menjadi satu cerita menyentuh dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Tellusiattinge.
Di saat orang larut dalam kesedihan karena kehilangan orang tercinta, Masda menunjukkan tanggung jawab dan pengabdian dapat berjalan berdampingan dengan duka. Sebuah keteguhan yang tak hanya mengibarkan Merah Putih, tetapi juga menginspirasi banyak orang.













