Mamasa, Global Terkini- Program MBG yang digulirkan di Kabupaten Mamasa semestinya menjadi pengungkit kemandirian ekonomi daerah. Namun, pelaksanaannya justru menuai kritik karena dinilai masih bergantung pada pemasok bahan pokok dari luar wilayah.
Organisasi kepemudaan Sinergi Muda Mamasa secara terbuka mendesak seluruh pengelola program MBG di daerah itu untuk menghentikan kerja sama dengan supplier luar.
Mereka menilai, pola kebijakan tersebut tidak sejalan dengan semangat pemberdayaan ekonomi lokal dan berpotensi menggerus daya hidup petani, pedagang, serta pelaku UMKM Mamasa.
Dalam konteks pembangunan daerah, keberpihakan terhadap rantai pasok lokal bukan sekadar pilihan teknis, melainkan keputusan strategis. Ketergantungan pada pasokan luar daerah berisiko mematikan potensi ekonomi setempat yang sesungguhnya mampu menopang kebutuhan bahan pokok secara bertahap dan berkelanjutan.
Sinergi Muda Mamasa menegaskan, MBG seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana penguatan produksi lokal, bukan sekadar program distribusi yang manfaat ekonominya mengalir keluar daerah.
“Seharusnya peluang ini dinikmati masyarakat lokal, dari petani, pedagang, hingga UMKM. Jika pasokan diambil dari luar Mamasa, maka manfaat program ini tidak akan sepenuhnya dirasakan warga kita sendiri,” ujar Ryan Mewa’, Ketua Harian Sinergi Muda Mamasa, Selasa 6 Januari 2026.
Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan yang lebih luas, pembangunan yang tidak berakar pada kekuatan lokal hanya akan menciptakan ketergantungan baru.
Karena itu, seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun pengelola program, perlu menempatkan kemandirian ekonomi Mamasa sebagai orientasi utama, agar MBG benar-benar menjadi alat pemerataan, bukan sekadar proyek administratif.













