Bone, Global Terkini- Gara-gara tidak mampu membayar uang pendaftaran sesuai yang diminta pihak MTsN 1 Bone, AD terpaksa harus pindah mendaftar di sekolah lain.
Keinginan AD untuk bisa bersekolah agama dan dekat dari tempat tinggal pun kandas.
Nenek AD mengaku beberapa kali sudah mengemis kebijakan namun tidak membuahkan hasil.
Pihak Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Bone ngotot semua harus dibayar sesuai ketentuan.
“Saya sampai menangis waktu itu tapi tetap tidak bisa, terpaksa saya daftarkan di SMP, sudah mi juga ukur baju,” ucap MI nenek AD, Senin 1 Juli 2024.
Selama ini AD memang hanya tinggal bersama MI yang kondisinya serba kekurangan.
Terkait hal tersebut, ketua panitia Penerimaan Peserta Didik Baru Madrasah (PPDBM) Surahman mengaku belum mendapatkan informasi.
“Tidak ada informasi, andai yang bersangkutan menyampaikan ke kami, mungkin kita bisa bantu cari solusi,” ucapnya.
Surahman meminta agar para orang tua siswa yang merasa tidak mampu atau kurang sepakat dengan keputusan komite untuk menemui pihaknya.
“Sampaikan langsung ke kami, Insyaallah ada kebijakan kalau memang betul-betul tidak mampu,” katanya.
Selain di MTsN 1 Bone, persoalan pungutan berkedok infaq juga terjadi di beberapa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN).
MIN 8 contohnya, mereka diduga memungut infaq sebanyak Rp 1,5 juta rupiah per siswa, diangsur 3 kali.