Bone, Global Terkini- Agen e-Warung Desa Tacipong, Kecamatan Amali, Bone, Sulawesi Selatan, akhirnya mengklarifikasi persoalan dugaan pemotongan Rp 50 ribu bagi penerima Bantuan Sosial (Bansos) Rp 500 ribu.
Bantuan tersebut merupakan bantuan untuk peserta BPNT yang tidak menerima PKH.
Lewat telepon, agen bernama Nurfaisah menjelaskan, jika yang meminta secara langsung bukanlah dirinya, melainkan Herman, adiknya.
” Dia kasihan lihat saya sakit. Masyarakat itu manja, kadang kalau mau penyaluran, harus ditelepon beberapa kali, kadang tiga hari baru datang, mau dapat bantuan tapi tak ada yang mau “dianu”, saya yang pusing fikir, kadang saya bilang, kalau sudah tak perlu, bilang, nanti kita lapor, ” Kata Nurfaisah, Selasa 1 September 2020.
” Cuma karena setiap hari beli tabung oksigen seharga Rp 200 ribu, jadi saya minta sumbangan kasian. Jujur, ini benar-benar jadi beban, mereka ikhlas (memberi uang) saat di rumah, setelah pulang dicerita, ” Tambahnya.
Herman mengungkapkan, kejadian bermula ketika Bansos tersebut hendak disalurkan, Nurfaisah kemudian menelepon warga untuk datang.
” Kemudian saya panggil keponakan untuk membantu gesek kartu, saya lantas minta Rp 50 ribu ke warga sembari mengatakan jika ikhlas, kalau tidak, tak apa-apa, karena saya anggap semua sudah seperti keluarga, mereka mengiakan, bahkan mengaku tak ada masalah, ” Tutur Herman.
” Uang rencana mau saya dibagikan ke mereka yang membantu penyaluran. Namun banyak cerita yang muncul saat warga pulang ke rumah masing-masing, merasa tak nyaman, saya telepon mereka kembali untuk memulangkan uang tersebut, ada yang tak datang, uangnya diantarkan, ” Imbuhnya.
Soal setoran ke oknum pendamping, Nurfaisah juga dengan tegas membantah, kata dia, dirinya memang biasa memberi, namun tanpa diminta alias sukarela.
” Biasa saya kasih Rp 170 ribu hingga Rp 200 ribu, tapi TKSK tak pernah meminta, saya kasih secara sukarela, kadang, kalau keuntungan yang kami dapat kurang, kami tak kasih apa-apa, ” Katanya.
” Kalau ada yang bilang, TKSK meminta, mungkin dia hanya sakit hati, atau ada unsur kecemburuan, ” Pungkasnya.
Penulis: Indra Mahendra













